Merayakan Kesalahan

Merayakan Kesalahan

 

Boleh saja melakukan kesalahan.

Yang tidak boleh adalah

tidak belajar dari kesalahan.

~ Keluarga Pa Dodik dan Bu Septi ~

 

Aneh, ya, kesalahan kok dirayakan? Mungkin seperti Itu  pemikiran sebagian besar yang membaca judul tulisan ini. Tapi, dengan tujuan itulah saya membuat tulisan ini.

 

 

Ada yang tahu, apa yang salah dengan ketupat dalam gambar di atas, Mom? Mungkin banyak yang setuju, bahwa gambar itu baik-baik saja. Saya sendiri pun, jika bukan karena saya yang membuatnya, mungkin akan punya pendapat yang sama. Tetapi sayangnya, ketupat dalam gambar adalah sebuah kesalahan yang ingin saya ceritakan kali ini.

Jadi, ceritanya begini, Mom.

Selama 20 tahun terakhir ini kami tidak pernah berlebaran di rumah, melainkan secara bergantian menghabiskan libur lebaran di Kendal — kampung halaman suami atau di Jakarta, kota kelahiran saya. Selama itu pula, saya tidak pernah mendapat tugas memasak ketupat atau lontong sebagai menu wajib hari raya. Di rumah Ibu, keterampilan saya terkait ketupat, hanya terbatas membantu mengisi kulit ketupat dengan beras sesuai instruksi Ibu. Sementara di Kendal, lebih parah lagi. Saya hanya tinggal menikmatinya saja, tanpa perlu tahu tentang proses pembuatannya.

Jadi, begitulah, puluhan tahun saya tidak pernah memasak ketupat atau lontong, jadi pengetahuan saya memang terbatas sekali tentang ini.

Akibat pandemi covid-19, kegiatan bergantian berlebaran di kampung halaman suami atau di kota kelahiran saya menjadi terhenti. Akibat larangan mudik yang diberlakukan khususnya untuk ASN seperti saya, membuat lebaran ini menjadi kali kedua kami berlebaran di rumah. Tahun lalu, saya memesan ke tetangga yang biasa menerima pesanan lontong. Tetapi tahun ini saya ingin sekali makan ketupat. Walaupun jenisnya sama, menurut saya lontong dan ketupat berbeda. Dan karena tetangga juga tidak biasa membuat ketupat — hanya menerima pesanan pembuatan lontong. Saya terpaksa mencoba memasaknya sendiri

Tadinya saya optimis ini akan berhasil. Apa sih susahnya membuat ketupat? Hanya mengisi kulit ketupat dengan beras sesuai takaran lalu merebusnya hingga tanak. Dan taraa … ketupat spesial segera bisa dinikmati.

Tetapi ternyata saya salah. Karena hanya membantu mengisinya sesekali, saya tidak hapal betul berapa takaran yang pas. Yang saya ingat hanya mengisinya sebanyak 1/3 ketupat, yang lainnya tidak ingat lagi. Dan karena memasak ketupat memang harus lama, saya khawatir akan menghabiskan gas, membuat saya memutuskan memasaknya di smart cooker.

Ketika display monitor menunjukkan waktu 3 jam yang saya tetapkan untuk waktu memasak ketupat sudah selesai, saya mengangkat ketupat dan meniriskannya. Saat itulah saya tahu telah membuat kesalahan. Ketupat-ketupat yang saya rebus, hanya terisi separuh. Itu pun dengan kontur yang lembik. Meskipun ketika dibelah dan disajikan dalam mangkuk, tetap bisa dimakan. Namun karena bentuknya berbeda dengan yang selama ini Ibu buat, saya tetap menganggapnya kegagalan.

Ada yang menebak saya menangis melihat kegagalan kali ini, Mom? Tidak ada? Syukurlah. Karena saya memang tidak menangis. Saya malah tertawa, menertawakan kebodohan sendiri.

Jangan salah ya, Mom. Sebuah kesalahan bukan harga mati. Melainkan sebuah proses pembelajaran juga. Meski berharga mahal — karena menghabiskan waktu dan biaya untuk memasak ketupat yang ternyata gagal — saya tetap belajar banyak dari kesalahan tersebut. Saya takjub melihat ketupat yang masij terisi separuh dan tetap bisa dinikmati  ketupat asli walaupun lembik, dan bukan seperti bubur nasi. Saya juga jadi tahu, seharusnya kulit ketupat diisi 2/3 bagiannya, bukan hanya 1/3 bagian seperti yang saya lakukan. Saya juga tahu, ketupat yang sudah jadi, harus digantung supaya sisa air bisa ditiriskan dan ketupat mengeras.

Jadi, saya memang belajar banyak dari sebuah kesalahan. Bahkan mungkin lebih banyak dibanding pelajaran dari sebuah kesuksesan. Sebab kesuksesan hanya membuat saya berpuas diri, merasa mampu dan bisa jadi menolak saran dari yang lain, meskipun Itu akan membuat ketupat yang saya masak menjadi lebih baik.

Ini cara saya dalam menyikapi kesalahan atau kegagalan. Bagaimana cara kamu menerima kegagalan?

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply