TANTANGAN​ KELUARGA LITERASI HARI KETIGA

TANTANGAN​ KELUARGA LITERASI HARI KETIGA
Kemampuan membaca itu sebuah rahmat
Kegemaran membaca itu sebuah kebahagiaan
~ Goenawan Mohamad~


Hari ini sempat bersitegang dengan anak perihal membaca. Karena saat liburan seperti ini Adha lebih sering menghabiskan waktunya dengan bermain game di hape. Memang sih game yang dimainkan adalah get rich dan soccer yang sepertinya tidak membahayakan. Namun, tetap saja, karena anakku sudah berjanji untuk melakukan one day one story, setelah tahu dia tidak membaca apa-apa  hari ini, aku rada emosi. Memang, ini kesalahan yang berulang kali kulakukan, kesulitan mengendalikan emosi saat berargumen dengan anak. Meskipun sering kuakui, semua terjadi karena kemampuan komunikasi produktifku yang masih perlu terus diasah.

Akhirnya, supaya tidak melakukan sesuatu yang nantinya akan aku sesali sendiri (seperti memarahi anak atau memberi cap pada anak dengan kalimat negatif), lebih baik aku pergi menenangkan diri. Mudah-mudahan dengan merubah posisi, emosiku bisa kembali stabil. Alhamdulillah setelah beberapa waktu, aku bisa kembali tenang. Namun, aku belum mau membuka diskusi lagi dengan anakku, karena merasa belum memiliki bekal untuk melakukan negosiasi.

Ketika suami pulang dari kunjungan nasabah, kuceritakan semua kegundahanku. Beliau ingin langsung memanggil anak kami dan melakukan klarifikasi, tetapi aku larang. Karena nantinya malah membuat Adha merasa dihakimi. Akhirnya bahasan itu kami simpan dulu.

Kemudian, aku teringat kesimpulan pembahasan test finger print Adha. Bahwa dia adalah seorang Si – sensing introvert yang senang akan tantangan. Tetapi sepertinya tantangan membaca seperti ini, “terlalu biasa” untuk dia sehingga tidak terlalu menggugah semangatnya untuk mengeksekusi. Atau, bisa jadi juga, akunya yang kurang bisa menjelaskan, sehingga membuat anakku tidak bisa menangkap esensi dari tantangan kali ini.

Apa pun itu, kami tetap harus melanjutkan. Bukan hanya sekedar untuk memenuhi tugas tantangan 10 hari, dan mendapatkan​ badge. Tetapi lebih khusus lagi adalah untuk membuat Adha menjadi gemar membaca. Setelah aku eksplor semua kesimpulan tentang hasil finger print anakku, aku teringat lagi akan kemistri Adha yang sangat kuat pada harta. Okelah, mudah-mudahan aku bisa memanfaatkan ini untuk membuat dia melakukan kebiasaan yang akan meningkatkan minat dan kegemarannya membaca.

Jadi, akhirnya aku membuat kesepakatan bersama anakku. Berhubung aku memang akan membelikan laptop, saat dia SMP nanti, maka aku akan menjadikan momen ini sebagai poin untuk peningkatan keterampilan membacanya. Sehingga kesepakatan kami akhirnya menjadi – aku dan bapaknya akan membelikan Adha laptop bila dia bisa membaca sekurang-kurangnya 40 buku. Tapi, bukan hanya sekedar membaca, Adha juga harus bisa memberikan penjelasan tentang intisari dari buku yang dia baca.

Kenapa menggunakan angka 40? Karena aku pernah membaca, bahwa untuk membentuk satu kebiasaan baru, kita harus melakukannya minimal 40 kali. Jadi aku memang berharap, setelah membaca minimal 40 judul buku, Anakku akan menemukan minat membacanya. Semoga…

Setelah aku sampaikan tantangan dengan reward seperti ini, anakku setuju. Bahkan ia antusias bisa menyelesaikannya lebih cepat dari waktu 3 bulan yang aku tentukan. Malah, Adha yang mengajukan usul untuk tidak harus menceritakan kembali, tapi cukup menuliskannya di list yang pernah kami buat untuk proyek sebelumnya.

Tetapi, sepertinya aku tetap lebih memilih pohon, supaya tidak hanya anakku, melainkan aku dan suami juga bisa mengevaluasi aktivitas literasi  kami. Mungkin aku akan menambah dengan kotak makna – tempat kami bertiga menyimpan note yang berisi intisari buku yang kami baca.

Dan, akhirnya pohon kami mulai nampak bentuknya. Tadinya aku tidak menyangka akan sebagus ini. Hehehe… Ini bonus, karena aku membuatnya dengan penuh cinta dan energi positif yang berharap manfaat dari yang aku buat.

Nantinya, pohon ini akan kami isi dengan daun sesuai warna kami masing-masing, Adha – merah, aku – biru, Maa Zen – kuning sesuai jumlah buku yang kami baca. Selain itu, sepertinya akan lebih indah, jika pohon ini aku tempatkan seperti tonggak sejarah di samping rumah, dengan kotak makna sebagai pelengkapnya, juga bangku taman untuk menyemarakkan oase literasi kami. Jadi, namanya bukan lagi pohon literasi, tetapi menjadi oase literasi.

Begitu, lah. Meski hari ini tidak ada aktivitas membaca yang kami lakukan (note : aku tetap membaca bahan-bahan untuk membuat presentasi 30 menit lebih dekat dengan observer, sebagai tugasku hari ini – tetapi, untuk menghargai kebersamaan kami, tidak akan aku masukkan dalam proyek). Tapi lebih dari itu, kami telah berhasil mengembangkan beberapa peningkatan sekaligus yaitu, komunikasi produktif, mengembangkan gaya belajar anak, negosiasi dan membiasakan kegiatan baru.

Semoga, melalui kegiatan seperti ini, keluarga kami makin solid dan anak kami juga makin paham mengenai beberapa kebiasaan baik yang harusnya dimiliki. Dan semoga Allah SWT selalu memberi kami kemudahan dalam melakukan semuanya. Aamiin…
#GameLevel5
#Tantangan10Hari
#KuliahBunSayIIP
#ForThingstoChangeIMustChangeFirst

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

4 Responses

  1. Siti AisahJune 10, 2017 at 11:32 pm

    Wahh kerenn, 40 buku mba? Saya malah satu judul bukan satu buku. Karena si kecil baru 7 dan 5 tahun. Jadi bukunya buku bergambar dengan bahasa yg ringan. Alhamdulillah untuk yg Abg sudah bisa baca satu buku satu hari. Tergantung anaknya juga sih, kalau lagi gak mood ya gak baca. Butuh kesabaran yaa ternyata. Salam hangat dari Cianjur

  2. Siti AisahJune 10, 2017 at 11:33 pm

    Wahh kerenn, 40 buku mba? Saya malah satu judul bukan satu buku. Karena si kecil baru 7 dan 5 tahun. Jadi bukunya buku bergambar dengan bahasa yg ringan. Alhamdulillah untuk yg Abg sudah bisa baca satu buku satu hari. Tergantung anaknya juga sih, kalau lagi gak mood ya gak baca. Butuh kesabaran yaa ternyata. Salam hangat dari Cianjur

  3. SriJune 11, 2017 at 1:30 am

    Alhamdulillah… Iya, karena ini untuk membentuk kebiasaan baru. Semoga setelah membaca 40 buku, akan terbentuk kebiasaan membacanya. Semoga, ya… Aamiin…

  4. SriJune 11, 2017 at 1:33 am

    Iya, memang benar-benar butuh kesabaran dan terus menerus introspeksi diri. Karena mamanya juga manusia biasa, yang seringkali emosi kalo menghadapi sesuatu di luar keinginan dan harapan. Hehehe… Salam hangat kembali, ya…

Leave a Reply