JRF MIIPB7 Sesi #3 : Kembali ke Awal

JRF MIIPB7 Sesi #3 : Kembali ke Awal

Dengan kacamata cinta, kita selalu bisa memilih

dan mengambil hikmah terbaik dari setiap ikatan yang dimiliki.

Bahkan, juga dari hubungan yang mungkin terlihat buruk dari luar

˜ Alifadha Pradana˜

 

Dari 3 materi awal, inilah sesi paling bikin baper. Bagaimana tidak? NHW nya saja membuat surat cinta dan memahami kalimat cintanya.

Syukurlah, meski tak sedikit yang masih single (belum menikah) atau pun orang tua tunggal, semua tetap menjawab tugas di episode ini. Meskipun banyak juga yang menyetorkannya di akhir waktu, yang membuat acara menilai dan memberi feedback menjadi lebih berirama.

Memasuki pekan ketiga, kelas Matrikulasi Batch #7 membuat rutinitas “ngefasil” menjadi keseharian buat Saya. Sehingga mungkin akan membuat kehilangan, saat rutinitas ini berakhir.

Hehehe… Agak lebay ya…?

Sejak share materi sesi #3 ini, mulai memancing beberapa curhat tentang masalah pribadi dan kondisi rumah tangga para matrikan. Alih-alih membuat sebal, curhatan tadi lagi-lagi semakin membuat saya mampu “membaca” takdir diri sendiri, disandingkan bersama pasangan hidup tercinta. Memang tidak selalu mudah. Namun, di balik kesukaran yang dialami, ternyata tersemat bukti bahwa tetap itulah situasi terbaik yang harus saya jalani.

Pemahaman bahwa apa pun yang diskenariokan Tuhan, adalah selalu yang terbaik, bagaimana pun “rasanya”. Itulah yang saya bagikan saat menjawab curhatan teman-teman.

Menjalani dengan hati, memang tetap proses terbaik dalam memaknai setiap tapak perjalanan kehidupan ini. Dengan menulis Surat cinta untuk suami dan menerima feedback nya, merupakan langkah kembali pada awal perjalanan panjang untuk saling memahami.

Dan buat saya sendiri, menjadi saksi bisu kembalinya mereka ke titik 0 masing-masing, tetap memberikan rasa yang tak terlupakan Apalagi karena membuat Saya makin menguatkan hati, untuk yakin terhadap sikap yang kini sedang Saya lakoni.

Kembali ke titik nol memang bukan pekerjaan mudah. Rasanya seperti menyia-nyiakan ribuan langkah yang sudah terlewati. Namun, titik nol tetap tonggak penting yang wajib diambil, bila ia akan membawa kita pada kesadaran pemahaman tentang misi hidup pribadi dan keluarga.

 

Sumber Gambar : Dokumentasi Pribadi

 

Jadi, jika kita memang harus kembali ke titik nol, untuk memulai lagi dari awal perjalanan membangun peradaban dengan pasangan dan keluarga tercinta, yang tentu saja dengan pemahaman yang lebih baik dari sebelumnya. Apakah akan menyurutkan langkah? Tentu saja, tidak. Karena lebih baik kembali memulai dari awal, perjalanan yang sudah jelas arah dan tujuannya bahkan yang sudah lengkap peta dan navigasinya, ketimbang meneruskan perjalanan yang tanpa kejelasan arah dan tujuannya.

Jadi seperti itulah makna yang Saya dapat dari sesi #3 ini. Bagaimana denganmu?

 

#jurnalrefleksifasilmiipb7
#fasilitatormatrikulasi
#fasilmatrikulasiiip
#jrfmiipb7sesi3

 

Referensi :

  1. Al-Qur’an Transliterasi Az-Zukhruf, Tiga Serangkai – Solo, 2014
  2. Baqi, Muhammad Fuad Abdul, Al-Lu’lu wal Marjan Mutiara Hadits Sahih Bukhari dan Muslim, Ummul Qura, Jakarta, 2017
  3. Materi Training Calon Fasilitator MIIPB7
  4. Materi dan Camilan Sesi #3 Membangun Peradaban dari Rumh
  5. Diskusi di Grup WA Fasilitator MIIPB7
  6. NHW saat Matrikulasi batch #2 dulu
  7. Pengalaman Pribadi

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply