DAY 12 : PENGELOLAAN KEUANGAN

DAY 12 : PENGELOLAAN KEUANGAN

Tak ada penganggaran yang paling benar.

Karena semua benar sesuai kondisi

dan tujuan masing-masing

~ Alifadha Pradana ~

 

Dari rencana proyek kecerdasan finansial yang disusun kemaren, saya merencanakan hari ini kami masih akan membahas mengenai memberi dan menerima. Tetapi, dari kegiatan yang dilakukan dua hari kemaren, di mana ada cukup banyak simulasi memberi dan menerima yang bisa memperluas wawasan Adha, saya pikir konsep tentang memberi dan menerima sudah selesai dilaksanakan. Jadi kami akan melangkah ke sub topik berikutnya, yaitu menyusun budget keluarga.

Perihal budget ini, seringkali membuat saya malu hati. Karena jujur, tak pernah melakukannya dengan benar. Beberapa kali berniat mencatat semua pendapatan dan pengeluaran, hanya konsisten di tahap awal atau di hari-hari pertama, namun tak pernah berlanjut hingga pindah bulan. Hal ini mungkin terjadi akibat pikiran negatif yang sudah merasa salah langkah sejak awal.

Sungguh, sejak mulai aktif mencari informasi mengenai manajemen keluarga, terlebih lagi saat bergabung dengan Institut Ibu Profesional, saya menyadari bahwa sudah melakukan kesalahan dalam mengelola keuangan keluarga. Saya tak ingin menyalahkan siapa pun. Karena, semua semata karena kurangnya informasi dan komitmen diri saat terjun dalam pernikahan. Hanya memilih jalan termudah yang saya lakukan. Meskipun akibatnya membuat saya tak mudah terlepas dari lingkaran setan yang bernama “hutang”, tetap tak ada waktu untuk menyesali diri.

Hampir tiga tahun berlalu sejak saya melakukan check up keuangan secara menyeluruh. Meskipun tidak didampingi seorang ahli keuangan, ternyata saya cukup mampu melist semua poin keuangan yang penting. Mulai dari aset, harta, hutang, berbagai jenis pendapatan yang kami hasilkan dan catatan-catatan buruk jejak keuangan saya, yang tidak bisa dihapuskan. Meskipun ada rasa sesal membaca kenyataan yang saya dapatkan, tetap tak ada yang bisa saya lakukan untuk menghapus atau menggantinya dengan yang lebih baik. Yang bisa dan kemudian memang saya lakukan adalah, memperbaiki catatan keuangan saya dan mengusahakannya bergerak ke arah positif.

Butuh waktu dua tahun untuk benar-benar menghapus kartu kredit dari catatan keuangan saya. Penghapusan item kartu kredit ini bukan karena kartu kreditnya yang jelek, tetapi akibat saya belum mampu mengendalikan diri dan memanfaatkan kartu kredit secara benar. Sehingga, akhirnya malah membuat saya berkubang dalam hutang kartu kredit yang mengganggu kenyamanan hidup kami sekeluarga, bahkan juga keluarga besar saya. Tapi, syukurlah, cerita itu sudah bisa saya lupakan. Meski harus tertatih-tatih melakukannya, saya bahagia bisa mengoptimalkan usaha untuk memperbaiki catatan buruk keuangan saya.

Selanjutnya, giliran perbaikan terhadap aset yang saya miliki, yang menjadi agunan hutang yang lainnya. Saya hanya ingin, semua aset yang berupa logam mulia 24 karat dan emas perhiasan ini, perlahan utuh kembali. Berat memang, karena jumlahnya tidak sedikit. Tapi saya ingin, apa yang merupakan jerih payah saya, kembali menjadi hak milik secara nyata, bahkan bisa bertambah. Semoga, semua bisa terlaksana.

Meskipun banyak warna merah dalam catatan keuangan saya, sebenarnya tidak semuanya seburuk yang tampak. Karena, walau dalam belitan hutang sekali pun, saya masih tetap bisa menunaikan apa yang menjadi hak Allah dan orang yang membutuhkan yang harus saya sedekahkan. Juga, tidak sedikit uang saya di luar yang berupa piutang, yang sebenarnya bisa ditagihkan. Tapi, saya tak pernah menganggap ini sebagai kesalahan, meskipun memberi hutang tanpa agunan dan kepastian pembayaran. Karena, dalam ajaran Islam, semua akan berbalas, termasuk piutang yang tak ditagihkan.

 

Akibat beberapa kesalahan tadi, saya merasa tak pernah bisa membuat budget dengan benar, sesuai petunjuk para profesional. Sehingga, akhirnya saya melakukan pengelolaan uang yang menurut pertimbangan saya, bisa dilakukan. Artinya, untuk kebutuhan rumah tangga yang bisa distok, saya biasa membelinya dalam jumlah banyak agar cukup untuk satu bulan. Begitu juga bahan makanan yang bisa disimpan agak lama, yang bisa menjadi alternatif menu sehari-hari, selalu saya beli dalam jumah besar. Sebagai dana insidentil yang bisa dipergunakan untuk kebutuhan darurat, saya upayakan dengan selalu menyisihkan uang dua puluhan dari kembalian belanja dan menyimpannya dalam sebuah kotak uang. Sementara untuk kebutuhan kesehatan rutin, sebagai PNS, saya punya asuransi kesehatan untuk mengkavernya. Sedangkan untuk kebutuhan sehari-hari lainnya, Alhamdulilla,h selalu ada saja sumbernya. Baik dari pekerjaan kedua sebagai marketing simpanan maupun dari honor sebagai ghost writer.

Seperti itulah raport pengelolaan keuangan keluarga kami dengan saya sebagai manajernya. Saya tidak akan pernah merekomendasikannya untuk diikuti, karena memang banyak kekeliruan yang saya buat di dalamnya. Tetapi, yang ingin saya yakinkan adalah, kita harus percaya, bahwa Allah memang benar-benar Maha Adil. Dia selalu membayar kita sesuai yang kita lakukan, bahkan seringkali berlebih. Jadi, jangan pernah menyesal jika pun kita sampai kehabisan uang karena menolong orang lain. Niscaya semua yang kita lakukan, tetap ada imbalannya. Yang bahkan kerapkali menakjubkan untuk diterima akal kita.

 

#KuliahBunsayIIP
#Tantangan10Hari
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply