ALIRAN RASA KECERDASAN FINANSIAL

ALIRAN RASA KECERDASAN FINANSIAL

Kemampuan mengelola uang,

termasuk keterampilan dasar

yang harus dimiliki.

Tidak hanya oleh anak,

terlebih lagi kita sebagai orang tua.

Tetapi, sedikit sekali yang benar-benar concern

untuk melatihnya.

~ Alifadha Pradana ~

 

Kuliah bunda sayang mengenai kecerdasan finansial memang sudah usai. Artinya materi dan tantangan latihannya sudah rampung disampaikan. Tetapi sebenarnya, pembelajarannya tak pernah kenal kata selesai. Ia akan terus berproses sampai hidup kita berhenti. Karena, seperti pelajaran mengenai keterampilan dasar lainnya, merupakan pembelajaran sepanjang hayat. Jadi, tak akan pernah usai.

Dan seperti yang memang sudah saya tentukan di awal, menuju cerdas finansial bagi saya, butuh waktu untuk sedikit demi sedikit memperbaiki yang keliru, membenahi yang berantakan dan meningkatkan yang memang sudah laik dilakukan.

Tapi, dari introspeksi yang sudah dilakukan terkait pengelolaan keuangan, dengan sangat menyesal saya harus mengakui beberapa hal yang menjadi penyebabnya, yang tentu saja harus saya sadari-terima-pahami-ubah dulu agar bisa mengambil start menuju cerdas finansial. Karena sebagai dasar pengelolaan keuangan ini, menurut saya, materi dari kelas kecerdasan finansial sudah cukup sebagai pegangan awal.

Akhirnya, saya mencoba mengurai penyebab, atas banyak kekeliruan pengelolaan keuangan keluarga, yang sudah saya lakukan. Bukan bermaksud mencari alasan atas kesalahan pengelolaan finansial, melainkan hanya sebagai pijakan agar saya bisa lebih mawas diri, menyadari bahwa diri sendiri menyimpan potensi menjadi penyebab kekeliruan tadi.

Hmmm… Mudah-mudahan saya sanggup menghilangkan beberapa poin potensi penyebab kesalahan yang ada di bawah ini, ya. Aamiin…

1. Perasaan Kekurangan saat kecil dulu (mungkin bisa dibilang inner child, ya) sepertinya menjadi faktor utama penyebab saya terkadang jor-joran membeli barang yang saya inginkan. Dalam bahasa penjelasannya, perasaan kecewa yang dirasa saat tidak mampu membeli sesuatu yang diinginkan di masa kecil dulu, membuat saya sekarang – karena merasa punya penghasilan sendiri – lebih cenderung mengikuti keinginan dalam membeli barang, meskipun sebenarnya tidak terlalu saya butuhkan.

2. Minimnya Ilmu  Manajemen Keuangan yang kami miliki saat awal berumah tangga dulu, juga termasuk penyebab utama. Karena dengan ilmu yang serba minim ini, membuat saya dan suami cenderung mengambil jalan pintas sebagai solusi dalam masalah keuangan. Sebagai contoh, dalam mencari modal awal untuk usaha, memang lebih cepat dan mudah dengan berhutang. Apalagi memang ada kemudahan bagi seorang PNS seperti saya, untuk meminjam di bank devisa pemerintah daerah atau koperasi pegawai. Akhirnya, sampai sekarang saya masih terus berkubang dalam lingkaran hutang yang belum kunjung selesai, karena hutang yang lama hampir selalu diperpanjang dan diperbesar terus menerus.

3. Beberapa Kekeliruan Pemahaman Mengenai Rezeki dan Selingkupnya juga bisa merupakan potensi penyebab masalah keuangan. Misalnya, karena merasa mudah sekali mendapatkan uang (Saya punya beberapa bisnis sampingan, diantaranya sebagai ghost writer, dan marketing), membuat saya merasa mudah juga untuk mengeluarkan, baik untuk belanja sesuatu, maupun memberi pinjamana atau bantuan lainnya, karena berkeyakinan bahwa Allah pasti akan segera memberi lagi… 🙂 Saya tahu ini keliru, Namun sulit sekali menghilangkannya. Apalagi bila ada yang membutuhkan pinjaman, ngepasi saat saya mendapatkan penghasilan tambahan. Saya selalu merasa, bahwa uang saya kali itu, adalah memang untuk orang yang membutuhkan… 🙂

Memang cuma 3 poin potensi. Tetapi rasanya semua termasuk yang sulit untuk diubah, meski bukan tidak mungkin. Hanya saja, jika berhubungan dengan membantu orang lain, mungkin masih bisa dipertahankan, selama tidak mengganggu stabilitas keuangan keluarga. Tetapi jika konsumtifnya berhubungan dengan barang yang bahkan kurang saya butuhkan, pastinya saya harus menguatkan hati untuk mengurangi keinginan belanja tersebut.

Tak akan pernah mudah membuang kebiasaan buruk, meskipun kecil. Tapi jika saya tak pernah berusaha melakukannya, masalah keuangan saya juga tak akan pernah selesai…

 

 

#KuliahBunsayIIP
#Level8
#RejekiItuPastiKemuliaanHarusDicari
#CerdasFinansial
#AliranRasa

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Leave a Reply